Cinta Islam

[Hakim Yang Zuhud Terhadap Dunia] Atha’ bin Rabbah Pemberi Fatwah dari Mekkah

Dunia menjadi tempat mampir (numpang lewat) menuju negeri yang abadi adalah Prinsip hidup yang dipegang oleh Atha’ bin Rabbah, seorang hakim yang zuhud terhadap dunia. Atha’ bin Rabbah tidak ingin tujuan untuk selamat diakhirat terganggu oleh keinginan dunia.

Hakim yang Zuhud

Kelahiran Atha’ bin Rabbah

Atha’ lahir pada tahun 27 Hijriyah di kota Mekkah. Beliau terlahir dari rahim seorang budah bernama Barakah (bundanya) akan tetapi kemudian dimerdekakan oleh Abu Maisarah al-Fahri al-Makki. Dikota Mekkah ini Abu Muhammad (nama lain Atha’) tumbuh dari masa kanak- kanak, desawa, hingga tempat beliau wafat.

Di Mekkah tersebut Atha’ menimba berbagai cabang Ilmu Islam dibawah Bimbingan Para Sahabat Nabi. Atha’ muda sangat tekun dan bersungguh-sungguh menuntut Ilmu. Menurutnya Ke Ikhlasan menuntut ilmu akan membawa kebaikan dimasa depan dan karakter ini sukar dicari bandingannya.

Beberapa hal yang disangat menonjol dari kezuhudan Atha’

  • Lantai Masjid sudah menjadi Alas Tidur nya selama 20 tahun.
  • Beliau tidak pernah memakai baju yang harga nya lebih dari 5 Dirham.
  • Beliau sangat Khusyuk dalam beribadah kepada Allah.
  • Dalam usia senja beliau terbiasa membaca Al-Baqaroh sampai 200 ayat dalam sholat Qiyamul Lail.

Kamil bin Kuhail berkata “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mempelajari ilmu dengan penuh keikhlasan dan semata-mata mencari keridhaan Allah selain ketiga orang ini: Ahta’, Thawus, dan Mujahid.”

Belajar Ilmu Syari’ (Islam) bagi Atha’ Bin Rabbah merupakan hal yang sangat penting. Baginya Ilmu adalah sarana utama untuk bisa dekat dan mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Karena itu tidak pernah Atha’ menyia-nyiakan waktu dan kesempatan terbaik dalam menuntut Ilmu. Dibawah bimbingan Sahabat Rasulullah, Atha’ tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang anda untuk menuntut Ilmu.

Akal adalah Anugerah

Bagi Atha’ selain kebanykan manusia menyia-nyiakan anugerah yang terbesar yang diberikan oleh Allah. Anugerah tersebut adalah Akal yang digunakan untuk memperlajari Ilmu – Nya.

Diangkat menjadi Hakim (Mufti)

Karena kadar keilmuannya akan Ilmu Islam yang demikian luas dan mendalam, ditambah ibadahnya yang demikian tekun dan bersungguh-sungguh, serta kezuhudannya terhadap hal-hal yang sifatnya keduniawian, ia pun lalu diangkat menjadi mufti ( pemberi fatwa) di kota Makkah. Selama Atha’ menjadi mufti tidak ada seorang pun menentang dan menggugat fatwa yang beliau kemukakan.

Anugerah Umur Yang Panjang

Atha’ bin Abi Rabbah diberikan oleh Allah, nikmat umur yang panjang. Umur yang penuh dengan berkah untuk tekun beribadah, Zuhud terhadap dunia dan kegiatannya dalam menuntut Ilmu Syari’ dan  menyebar-luaskan kembali ilmu yang dia dapat untuk mencari Keridhaan Allah

Wafat sang Mufti

Pada usia ke 88 Tahun tepat pada tahun 115 H, Atha’ bin Abi Rabbah diwafatkan oleh Allah SWT. Beliau wafat dalam keadaan di Ridhai oleh Allah dan Umat islam pada masa itu. Al-Auza’i berkata sangat terlihat jelas ketika Atha’ meninggal dunia maka pada hari itu kelihatan sekali kalau ia merupakan penghuni bumi yang paling dicintai dan diridhai oleh umatnya.

Semoga Allah berkenan merahmati Atha’ dengan rahmat yang seluas-luasnya dan memberikan kekuatan kepada kaum Muslimin yang sesudahnya untuk bisa meneladani kehidupannya

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *